Berita Terbaru :

TENTANG KAMI

..Selamat Datang di Blog Milik si Uphil Unyue-unyue..

INGGRIANI ANDEWI PRAYOGI, S.Pd
Salam buat temen-temen Alumni SDN 1 BAGI, Alumni SMPN 1 BALEREJO, Alumni SMAN 1 NGLAMES dan temen-temen Alumni IKIP PGRI MADIUN

GHIBRATZ, S. Teler
Salam buat temen-temen Alumni SDN 2 SIDOMULYO, Alumni SMPN 1 WONOASRI, Alumni SMAN 1 MEJAYAN dan temen-temen Alumni UNMER MADIUN

Biografi Sastrawan Adinegoro

Hallo Sobat UPHil n RAGHiel kali ini saya Share Biografi Sastrawan Djamaluddin yang lebih di kenal dengan nama Adinegoro
ADINEGORO lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada tanggal 14 Agustus 1904. Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah.
Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di Stovia ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Dengan demikian, dipakainyalah nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun dapat menyalurkan keinginannya untuk memublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.

Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman Timur. Ia mendalami masalah jurnalistik di negara itu. Selain itu, ia juga mempelajari masalah kartografi, geografi politik, dan geopolitik. Pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro, memang, lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.
Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926—1930), ia juga menjadi wartawan bebas (freelance journalist) di surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta). Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka (pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama, hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932—1942). Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Persbiro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi KBN Antara). Sampai akhir khayatnya Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut.

Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya ditulis pada tahun 1928), yang membuat namanya sejajar dengan nama novelis besar Indonesia, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya, Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu (yang dijalankan oleh pihak kaum tua).
Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga membuat novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan itu diterbitkan pada tahun 1930.
Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang dieditori oleh Achdiat Karta Mihardja (1977). Dalam esainya itu. Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tidak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan sebaliknya.



KARYA ADINEGORO :
Dalam bentuk Novel
1. Darah Muda (Batavia Centrum: Balai Pustaka, 1931)
2. Asmara Jaya (Batavia Centrum: Balai Pustaka, 1932)
3. Melawat ke Barat (Jakarta: Balai Pustaka, 1950)
Dalam bentuk Cerita Pendek
1. Bayati es Kopyor (Varia, No. 278, Th. Ke-6. 1961)
2. Etsuko (Varia, No. 278, Th. Ke-6, 1961)
3. Lukisan Rumah Kami (Djaja,  No. 83, Th. Ke-2, 1963)
4. Nyanyian Bulan April (Varia,  No. 293, Th. Ke-6, 1963)


Baca Juga Kumpulan Biografi dari UPHil n RAGHiel :
1. Biografi Haji Said Daeng Muntu (HSD Muntu)
2. Biografi Armijn Pane
3. Biografi Sutan Takdir Alisjahbana 

Sumber : Berbgai Sumber.

Novel DARAH MUDA Karya Adinegoro

Hallo Sobat UPHil n RAGHiel kali ini saya Share Sinopsis Novel DARAH MUDA yang merupakan salah satu roman karya sastrawan Balai Pustaka, yang ditulis oleh Adinegoro atau Djamaluddin yang bergelar Datuk Madjo Sutan.

Tema Cerita : Kisah perkawinan dua adat dan suku yang berbeda, antara seorang pemuda Minangkabau dengan perawan sunda.
Setting Cerita : Jakarta dan Bukittinggi
Tokoh-tokoh dan watak :
Nurdin : seorang pemuda terpelajar. Dia adalah alumnus dari sekolah kedokteran Stovia. Dia termasuk pemuda yang sentimentil.
Rukmini : seorang perawan Priangan, terpelajar, serta seorang guru di Bukittinggi.
Harun : seorang pemuda Minang, dia mempunyai sifat yang jelek.
Gapur : sahabat Harun dan sekaligus teman Rukmini, serta dia merupakan orang tangan kanannya Harun.
Ibu Nurdin : simbol seorang perempuan Padang yang cukup berpegang teguh pada adat – istiadat Padang.

Ringkasan Cerita:

Setelah lulus dari sekolah kedokterannya, Nurdin disuruh oleh Orang tuanya untuk kembali ke Padang ( Bukit Tinggi ). Dikarenakan orang tuanya sudah sangat rindu untuk ingin bertemu. Di perjalanan, Nurdin berkenalan dengan seorang gadis Priangan yang bernama Rukmini. Rupanya, ia hendak menjenguk ibunya di Bengkulu. Rukmini adalah seorang guru sekolah rendah.

Sepulangnya dari Padang, Nurdin bekerja di CBZ daerah Jakarta. Kurang dari setahun dia bekerja di situ. Lalu, dia dipindah tugaskan ke Bukit Tinggi,. Sampai di Bukit Tinggi, Nurdin oleh Ibunya hendak dikawainkan dengan gadis sedaerahnya atas pilihan Ibunya. Namun, Nurdin menolak tawaran itu, sebab dia sudah terpaut dengan Rukmini, gadis Priangan itu.

Rupanya, tidak lama berselang. Dia bertemu lagi dengan Rukmini di Padang, yaitu ketika Rukmini sedang berusaha mencari tempat pengajar pada sebuah sekolah partikelir di Padang tersebut.

Di suatu hari Nurdin pulang ke Bukit Tinggi. Dia bertemu lagi dengan Rukmini dalam kereta api yang ditumpanginya. Pada waktu itu, Rukmini sedang menjenguk Ibunya yang sedang sakit di Bukit Tinggi. Ibu Rukmini ternyata diobati oleh Nurdin, sehingga hubungan kedua anak muda itu semakin dekat dan semakin akrab. Namun, Ibu Nurdin tidak menyetujui hubungan Mereka. Setelah terjadi perselisihan paham dan perdebatan yang panjang antara Nurdin dan Ibunya tentang masalah jodoh dan kawin paksa serta poligami. Akhirnya, walaupun hanya dengan setengah hati Ibunya Nurdin memperbolehkan mereka untuk menikah. Akan tetapi, walaupun Ibu Nurdin telah merestui mereka dengan setengah hati itu, rupanya pernikahan antara kedua anak muda itu gagal.

Kegagalan itu disebabkan oleh masalah adat-istiadat tata cara lamar-melamar. Sebagai orang minang, secara adat Ibu Nurdin ingin agar ppihak perempuan yang harus meminang pihak pria. Sebaliknya, menurut Rukmini. Dimana menurut adadt sunda yang melamar itu seharusnya pihak pria. Nah, disini letak kedua belah pihak sama-sama ngotot mempertahankan adat istiadat masing-masing. Akibatnya karena tidak ada kata sepakat, mamka mereka tidak jadi menikah pada waktu itu.

Akibat kenyataan itu, kenyataan Rukmini yang tidak mau mengalah dan sekaligus dia tidak begitu setuju Nurdin menikah dengan gadis luar masyarakat Minang. Maka, ibu Nurdin selanjutnya mulai melaksanakan niatnya unntuk merenggangkan hubungan antara Nurdin dengan Rukmini. Dia kemudian menyebar isu kepada keluarga Rukmini, bahwa Nurdin akan segera nikah dengan gadis sedaerahnya atau gadis Minang dalam waktu dekat.

Rupanya ada seorang pria yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan ini, dia bernama Harun. Harun secara terang-terangan langsung melamar Rukmini, sambil membawa isu bahwa Nurdin akan segera menikah. Tidak hanya sebatas itu usaha Harun, karena ternyata lamaran dan cintanya sama Rukmini .Dia kemudian menyuruh Gapur, temannya agar mencuri foto Rukmini. Maksud pencurian foto itu tidak lain agar Nurdin curiga dan cemburu. Caranya dia pura-pura sakit. Foto Rukmini dia taaruh di meja kamarnya. Kemudian, dia panggil Nurdin agar mengobatinya. Rupanya siasat Harun ini cukup sukses, sebab sewaktu Nurdin mengobati Harun di kamarnya itu dia melihat foto Rukmini yang terpampang dengan cantik di kamar Harun. Nurdin langsung cemburu dan curiga. Dia curuiga kepada Rukmini, bahwa benar Rukmini telah berpaling darinya dan mendapat pemuda baru yang bernama Harun itu. Hasilnya, Nurdin langsung memutuskan tali kasihnya dengan Rukmini.

Putusnya tali kasih Nurdin dengan Rukmini tidak hanya Harun yang senang, terlebih ibunya Nurdin. Dia semakin sayang kepada Nurdin yang memang terlihat jelas sudah renggang dengan Rukmini. Namun, kegembiraan ibu Nurdin ini tidak lama, sebab tidak lama kemudian rupanya Nurdin jatuh sakit akibat kenyataan itu. Melihat kenyataan itu, ibui Nurdin sangat menyesal telah berbuat demikian. Penyesalannya itu, dia utarakan sendiri kepada Nurdin.

Sewaktu Nurdin sakit, Nurdin minta agar Rukmini bersedia menengoknya dan sekaligus dia hendak minta maaf atas kesalahan pada Rukmini. Rukmini memenuhi permintaan Nurdin itu, dia langsung datang ke Padang menjenguk Nurdin. Dan pada saat itu, Rukmini menyerahkan buku hariannya kepada Nurdin. Buku harian tersebut berisi tentang bagaimana besarnya cinta Rukmini kepada Nurdin. Nurdin menjadi terharu setelah membaca buku harian Rukmini tersebut. Hati dan pikirannya langsung terbuka, sebab ternyata Nurdin sembuh.Nurdin langsung menikah dengan Rukmini. Akhirnya, jadilah mereka sebuah keluarga yang bahagia.

Biografi Haji Said Daeng Muntu (HSD Muntu)

Biografi HSD Muntu | Biografi Pengarang Novel Pembalasan | Biografi Pencipta Novel Karena Kerendahan Budi | Haji Said Deng Muntu

Raja Gowa I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (bertahta 1936-1946)Asalamuallaikum sobat UPHiel n RAGHiel bagaimana kabar hari ini..? semoga selalu sehat kali ini Saya Share Artikel tentang Biografi Haji Said Deng Muntu yang lebih terkenal dengan sebutan HSD Muntu. Ceritanya sangat bagus rugi kalau tidak baca karya Beliau. Ok untuk lebih jelasnya Sobat langsung baca sendiri saja ya.

Biografi Haji Said Deng Muntu (HSD Muntu)

Haji Said Daeng Muntu atau lebih dikenal dengan H.S.D. Muntu merupakan salah seorang pujangga dari angkatan Balai Pustaka. Beliau lahir di Padang, Sumatera Barat sekitar pada awal abad ke-20. Namun, ketika menginjak usia anak-anak, beliau pindah ke Makasar. Kepindahannya tersebut dikarenakan mengikuti orang tuanya yang dibawa paksa oleh Belanda.

Setelah dewasa beliau menjadi orang yang sangat berpengaruh di daerah Makasar yaitu menjadi pemimpin Muhammadiyah se-Sulawesi. Oleh karena itu, beliau mendapat tambahan gelar Daeng yaitu  suatu gelar kebangsawanan dari adat Bugis.

Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, beliau juga ikut aktif dalam menciptakan karya sastra dengan bergabung ke dalam Angkatan Balai Pustaka.  Karyanya berupa Roman antara lain berjudul “Pembalasan” dan” Karena Kerendahan Budi”. Roman “Pembalasan” dibuat pada tahun 1935 yang bercerita tentang pengkhianatan seorang pembantu yang mendapat kepercayaan dari tuannya. Roman ini mengambil latar tempat di daerah Goa/Gowa yang ketika itu daerah tersebut sudah mulai dikuasai oleh Belanda. Sementara  roman “Karena Kerendahan Budi” dibuat pada tahun 1941 yang bercerita tentang persoalan sosial dan pendidikan.

Sejarah Terciptanya

Roman bermula ketika sang pengarang HSD Muntu menjadi pemimpin  organisasi Muhamadiyah di Sulawesi. Karena saat itu HSD Muntu tinggal di Makasar, beliau membuat roman yang berhubungan adat kaum Bugis. Hal ini tidak terlepas dari kebudayaan orang Makasar sendiri yang berakar dari kaum Bugis. Roman ini berawal dari permasalahan sosial yaitu pertentangan adat dengan pendidikan modern. Walaupun sebenarnya maksudnya baik, namun oleh tokoh utama di sini salah mengartikan hakikat pendidikan modern itu sendiri. Sehingga di dalamnya akan muncul berbagai macam konflik yang pada akhirnya membuat tokoh utama terjerembab dalam kesesatan.

Latar Belakang Novel Pembalasan

Pembalasan di tulis tahun 1935, merupakan roman sejarah yang terjadi di daerah Goa/Gowa ketika daerah itu mulai dikuasai oleh Belanda, menceritakan sekitar pengkhianatan seorang pembantu yang mendapat kepercayaan dari tuannya. Untuk selengkapnya bisa di baca Disini.

Latar Belakang Karena Kerendahan Budi

Karena Kerendahan Budi di tulis tahun 1941, Roman ini dilatarbelakangi oleh masalah kawin paksa. Selain itu berisi juga tentang pertentangan antara kaum muda dengan kaum tua dalam hal pernikahan. Yang menjadi permasalan bagi pengarang ialah akibat-akibat lebih jauh dari pertemuan kebudayaan Eropa yang masuk dalam tubuh anak-anak bangsanya melalui pendidikan sekolah kolonial Belanda dengan adat masyarakat. Dalam hal ini pertentangan tersebut antara nilai-nilai kebebasan dan nilai adat istiadat. Untuk selengkapnya bisa di baca Disini.

NB. Jika Artikel ini bermanfaat buat Sobat dan ingin di Share ke Facebook atau Twiter boleh aja caranya Klik Icon Facebook atau Twiter yang ada di atas judul Artikel ini. Dan nanti akan berupa tautan yang sobat bagikan. Jangan lupa Untuk jejek anda silah kan berkomentar di kolom komentar atau sekedar Like Facebook Aq juga boleh Terima kasih.

 

Novel Pembalasan karya HSD Muntu

Novel Pembalasan karya HSD Muntu |Pembalasan Oleh HSD Muntu | Pembalasan By HSD Muntu

Rumah Adat Gowa Makasar 1936Sobat UPHil n RAGHiel kali ini Saya share Sinopsis Roman lagi Karya Haji Said Deng Muntu Judulnya “Pembalasan” untuk posting yang sebelumnya berjudul “Karena Kerendahan Budi” jika sobat ingin baca silahkan lihat Disini dan untuk biografi Haji Said Deng Muntu bisa di lihat Disini. Untuk kembali ke Koleksi Novel dan Biografi Pengarang klik Disini.

 

Judul: Pembalasan

Karya: H. S. D. Muntu

Ringkasan

 

Suatu cerita terjadi di daerah Goa/Gowa yang waktu itu dikuasai oleh Belanda. Daeng Mapata mempunyai dua anak yang satu bernama I Marabintang (perempuan) dan I Mappabangka (laki –laki). Ketika Daeng Mapata meninggal dunia. I Marabintang sudah beranjak dewasa sedangkan adiknya, I Mappabangka baru berumur 6 tahun. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Daeng Mapata menyerahkan kedua anaknya kepada Pa Pulando selaku orang kepercayaannya.

Amanat yang diberikan oleh Daeng Mapata ini rupanya dibalas dengan tidak baik oleh oleh Pa Pulando. Dalam hatinya telah muncul akal busuk. Diam-diam, dia rupanya hendak memanfaatkan kesempatan ini demi meraih segala harta dan kekayaan yang dimiliki oleh Daeng Mapata. Dia bermaksud hendak melenyapkan I Mapabangka. Sedangkan I Marabintang akan dikawinkan dengan anaknya yang bernama I Bodollahi. Dengan cara begitu, maka secara otomatis semua kekayaan Mapata akan jatuh ke tangan keluarga Pa Pulando.

Siasat itu pun dilaksanakan. Pada suatu malam yang sunyi Daeng Manrangka dan kawan–kawannya yang merupakan kelompok Penyamun ini, melarikan Mappabangka ke dalam hutan. Rupanya kabar penculikan itu sampai ke telinga patroli polisi pemerintah yang disampaikan oleh seseorang , yang tidak lin adalah orang-orang kepercayaan Pa Pulando sendiri. Para Penyamun yang dipimpin oleh Daeng Manrangka ini diikuti oleh sepasukan patroli pemerintah samapi ke sarangnya. Kemudian terjadilah pertempuran dahsyat antara pasukan penyamun dengan pasukan patroli polisi. Kedua belah pihak banyak yang menjadi korban. Akan tetapi, kemenangan sebenarnya ada di pihak pasukan patroli. Manrangka sendiri melarikan diri sambil membawa lari I Mappabangka ke Bonthain.

Tidak beberapa lama kemudian, sersan yang memimpin penyerangan ke sarang penyamun pada malam itu oleh pimpinannya dipindahkan ke Bonthain. Ia akhirnya bertemu lagi dengan Daeng Manrangka, kepala penyamun itu di tengah hutan. Dalam pertempuran itu, sersan polisi langsung membunuh Daeng Manrangka. I Mappabangka yang masih kecil, oleh sersan polisi diserahkan kepada tuan Petorok Bonthain, dan tak lama kembali diserahkan kepada sersan untuk dipelihara.Rumah Adat Gowa Makasar 1880

Setelah sukses di Bonthain, sersan itu dipindah tugaskan ke Aceh. I Mappabangka, anak angkatnya itu dibawa serta dan disekolahkan di Aceh. Tapi malang nasib si sersan di Aceh, setelah istrinya meninggal dunia. Dalam sebuah pemberontakan, si sersan itu mati dipancung oleh para pejuang Aceh. Sersan itu meninggal, I Mappabangka diserahkan kepada seorang letnan yang menjadi atasan sersan itu. Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian letnan itu pulang ke Belanda dan olehnya I Mappabangka diserahkan ke sipir penjara di Kotaraja untuk dididik bekerja. Sampai besar I Mappabangka ikut pada sipir penjara di Kotaraja, hingga dia menjadi seorang mandor di penjara itu. Ketika I Mappabangka dipindah tugaskan ke Sawah Lunto, disana ia dibuang dari Makassar karena telah membunuh Pua Nuhung, kawan Pa Pulando. Pertemuan I Mappabangka dengan I Soreang di sawah Lunto itu sangat mengharukan. I Soreang sangat kaget bertemu dengan I Mappabangka, sebab di kira I Mappabangka telah meninggal dunia sewaktu terjadi penyerangan ke sarang penyamun pimpinan Daeng Manrangka.

Sungguh gembiranya hati I Soreang bertemu lagi dengan putra seorang bangsawan dan punggawa yang sangat dia kagumi itu. Dan itu berarti, bahwa usaha-usahanya adalah mencegah pembunuhan yang akan dilakukan oleh Daeng Manrangka dan kawan-kawannya terhadap I Mappabangka, yaitu dengan jalan memberi tahu kepada patroli polisi, tempo dulu itu berhasil menyelamatkan I Mappabangka. Semua itu diceritakan I Soreang pada Mappabangka, sehingga ia mengetahui siapa sebenarnya I Soreang atau Uak Sore. Kedua orang ini kemudian pulang ke Makassar. Karena keberanian dan besarnya jasa yang diperbuat oleh I Soreang maka, dia kemudian dibebaskan dari hukuman.

SEKIAN

Jika Sinopsis Roman ini bermanfaat buat Sobat dan ingin di Share ke Facebook atau Twiter boleh aja caranya Klik Icon Facebook atau Twiter yang ada di atas judul Artikel ini. Dan nanti akan berupa tautan yang sobat bagikan. Jangan lupa Untuk jejek anda silah kan berkomentar di kolom komentar atau sekedar Like Facebook Aq juga boleh Terima kasih.

 

Novel Dan Perangpun Usai “Ismail Marahimin”

Novel Dan Perangpun Usai “Ismail Marahimin”Judul: Dan Perangpun Usai

Karya: Ismail Marahimin

Ringkasan

Dengan hati- hati beberapa tawanan yang berada di Kamp Tawanan, Teratak Buluh  milik Jepang merencanakan akan melarikan diri. Namun, rencana pelarian tersebut pertama kali diajukan oleh Wimpie, seorang tawanan dari bangsa Belanda. Hal itu belum mendapat kesepakatan oleh semua tawanan yang berada dalam kamp. Diantara para tawanan waktu itu terjadi beda pendapat antara yang pro Wimpie atau setuju hendak kabur dengan kontra pimpinan pastor Van Roscott yang punya firasat bahwa perang segera berakhir. Akibatnya dalam kamp tersebut diantara para tawanan yang terdiri dari 31 orang Belanda dan 1 orang pribumi bekas romusha yang bernama Kliwon sering terjadi ketegangan-ketegangan.

Letnan Gentaro Ose sebagai pimpinan kamp yang mengepalai sepuluh orang prajurit Jepangnya itu tidak tahu menahuakan rencana para tawanan Belanda tiu. Dari wakilnya Sersan Kiguchi, dia hanya mendapat laporan-laporan bahwa diantara para tawanan terjadi ketegangan-ketegangan. Namun penyebab-penyebab ketegangan-ketegangan itu adalah ia sendiri. Dia hanya menduga-duga bahwa pasti akan terjadi dalam Kamp Tawanan, nantinya.

Pihak-pihak yang pro atau kabur itu, kemudian menyusun rencana pelarian itu dengan penuh rinci. Jalan-jalan yang akan dilewati nantinya ditentukan oleh Kliwon. Kliwon sendiri tidak mempunyai hasrat untuk melarikan diri, namun karena aibnya banyak diketahui oleh Wimpie seperti perbuatan maksiatnya dengan anak Haji Zen, yaitu Lena serta perbuatan aib lainnya maka terpaksa dia harus menyetujui rencana Wimpie. Dia takut Wimpieakan menyebarluaskan semuanya itu ke semua orang. Dan kalau itu dilakukan oleh Wimpie, pasti Haji Zen akan marah padanya dan pasti akan malu besar, dia terhadap Haji Zen. Dalam rencana itu, haji Zen bertindak sebagai pembantu menyiapkan persediaan makanan dan segala kebutuhan pelarian yang dibutuhkan.

Sedangkan Pak Tua Hasan akan dijadikan sebagai penunjuk jalan untuk menuju sebuah desa terasin tempat nantinya mereka sembunyi. Akibat kekalahan Jepang di daerah Asia- Pasifik, para komandan Jepang yang berada di Sumatra dipanggil ke Kota Pekanbaru guna mendapat pengarahan dari pusat perhubungan dengan Gentaro Ose, maka pimpinan sementara Kamp Tawanan Teratak diserahkan kepada wakilnya, yakni Sersan Kiguchi. Di bawah kepemimpinannya, para tawanan dalam kamp tersebut mendapat siksaan yang cukup berat. Mereka diharuskan kerja siang malam. Bagi siapa saja yang melanggar perintahnya, tidak saja dihukum bekerja berat tapi juga disiksa secara fisik dengan pukulandan tendangandari prajurit-prajurit Jepang atas perintah Sersan Kiguchi.

Kliwon menyaksikan semuanya. Malah ketika dia hendak memasuki kamp sewaktu akan pulang dan kencannya dengan Lena, Kliwon tidak jadi pulang dari kamp. Dia tidur di atas rel kereta api. Hampir saja Kliwon mati dilindas kereta api paginya untung saja itu tidak terjadi. Sementara itu, Letnan Ose menerima pengarahan dari pusat yakni dari Kaisar Jepang bahwa Jepang telah kalah dan menyerah terhadap Sekutu maka seluruh komando diperingatkan agar menjaga tawanan dengan baik sambil menunggu kedatangan tentara Sekutu yang akan menyelesaikan semuanya di Indonesia.

Tiba di Kamp Tawanan Teratak Buluh, Letnan Ose langsung mengumpulkan para prajurit Jepang di Halaman Kamp guna menyampaikan pesan dari Kaisar. Rupanya para tawanan menterjemahkan dengan versi lain. Mereka menganggap bahwa kedatangan prajurit Jepang yang dipimpin langsung oleh Letnan Gentaro Ose tersebut adalah suatu pengarahan pembantaian terhadap para tawanan. Karena berpikiran begitu, ketika para prajurit Jepang datang, para tawanan itupun melakukan rencana pelarian mereka.

Rombongan pelarian itu bertambah satu orang lagi, yakni Lena yang memaksa ikut bersama Kliwon kekasihnya itu. Walaupun sudah diberi nasihat oleh Pak Tua Hasan namun, Lena tetap bertekad ikut. Hal ini ia lakukan sebab, dia tidak rela Kliwon meninggalkannya padahal Kliwon sudah sering menidurinya. Dia pun tidak mau menikah dengan pemuda lain yang belum dikenalnya dan tidak dicintainya.

Sebelum rombongan  ini tiba di tempat tujuan yaitu  desa terasing yang telah dijanjikan oleh Kliwon. Namun rombongan itu berhasil ditemukan oleh prajurit-prajurit Jepang. Dengan segala upaya, para tawanan itu berusaha meloloskan diri dari kepungan prajurit-prajurit Jepang yang dipimpin oleh Letnan Ose dan Sersan Kiguchi. Sayang nasib sial menimpa Pastor Van Schott, Kliwon dan Lena. Ketiganya tak berhasil meloloskan diri dari kepungan sedangkan tawanan lainnya berhasil meloloskan diri. Ketiga orang ini mati ditembak oleh terpaan peluru-peluru senapan yang dimuntahkan dari sepuluh senapan prajurit Jepang atas komando Letnan Gentaro Ose.

Para tawanan yang telah bebas, kini bisa berbahagia dan bersyukur. Mereka tidak lagi disiksa dan ditindas oleh penjajah. Karena, Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat tek lama setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.

 

Terimakasih telah berkunjung di UPHil n RAGHiel. baca juga simopsis  Kubah Karya "Ahmad Tohari" dan Karena Kerendahan Budi "HSD Munthu" jangan lupa tinggalkan komentar untuk jejak anda telah berkunjung di blog saya. Maju terus Pendidikan Indonesia..!!

 

Karena Kerendahan Budi "HSD Munthu"

Karena Kerendahan Budi "HSD Muntu"Judul: Karena Kerendahan Budi

Karya: H.S.D Munthu

Ringkasan

Nuripah yang baru menginjak tingkat dua di A.M.S Jakarta itu, tiba-tiba dipanggil pulang oleh kedua orang tuanya di kampung. Karena mereka hendak menikahkan Nuripah dengan seorang kepala suku, yaitu Arung Mallawa. Walaupun, dalam hatinya menolak dan lagi pula di sudah mempunyai pacar di Jakarta, yaitu Yunus. Namun karena hormat dengan orang tuanya dia terpaksa pulang dan kemudian terpaksa menikah dengan Arung Mallawa. Sebaliknya Yunus pun rupanya telah dijodohkan oleh orangtuanya. Yunus hendak dijodohkan dengan gadis Minangkabau.

Di Minahasa Nuripah karena tidak bahagia menikah dengan Arung. Rupanya dia bergaul erat dengan Mondouw. Dia adalah seorang pemuda modern yang bersekolah di sekolah pertanian Bogor. Nuripah ternyata jatuh hati dengan Mondouw. Begitu pun sebaliknya, Mondouw pun juga mencintai Nuripah. Malah Mondouw berjanji akan melarikan Nuripah dari cengkraman Arung ke Manado dan disana mereka akan menikah. Untuk kelancaran mereka, Mondouw memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu ke Menado. Sedangkan Nuripah untuk sementara waktu menunggu dulu di Makassar. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Nuripah menerima kabar juga dari Mondouw yang telah dinanti nantinya itu. Namun sayangnya berita yang didapatnya ternyata bukan kabar bahagia melainkan kabar pahit. Mondouw meminta maaf sebab dia telah dipaksakan kawin oleh kedua orang tuanya dengangadis pilihan orang tuanya di Menado. Hati Nuripah begitu hancur lebur dan tak menentu.

Hidup Nuripah di Makassar terlunta-lunta. Dia tidak punya pegangan lagi, suami dan anaknya telah ia tinggalkan karena saran Mondouw beberapa waktu lalu.Sudah beberapa bulan rumah kontrakannya tidak ia bayar. Bakareng si tuan rumah yang kaya itu sudah hendak mengusir nya. Namun entah kenapa, Bakareng membatalkannya. Sebab setelah berpapasan muka dengan Nuripah. Bakareng kaya yang sudah tua itu malah jatuh cinta dengan Nuripah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Nuripah. Nuripah yang terlantung-lantung dan putus asa itu, betul-betul memanfaatkan Bakareng. Dengan segala bujukan dan rayuan, Nuripah akhirnya dapat memanfaatkan uang Bakareng untuk pergi ke Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, Nuripah hidup dari hotel ke hotel sebagai wanita panggilan. Uang Bakareng tua itu sudah ludes diperas oleh Nuripah. Namun rupanya, sebagai seorang perempuan yang tadinya merupakan keturunan baik-baik, Nuripah sebenarnya pernah juga berusaha untuk menghentikan tingkah lakunya yang jelek itu. Dia hendak kembali ke jalan yang lurus, serta menjadi ibu yang baik.

Dia begitu rindu kepada Bakhtiar anaknya itu. Walaupun dia telah berusaha, namun karena nasibnya harus begitu sampai dengan akhir hayatnya. Nuripah terus saja di jalan yang tidak benar. Dia menjadi perempuan panggilan. Dia sangat frustasi sebab walaupun sampai pernah memelas dan hendak mencium kaki bekas suaminya sewaktu di Surabaya. Agar dia masih bisa diterima kembali sebagai istrinya ataupun hanya sebagai inang pengasuh bagi anaknya. Namun betapa hancur Nuripah, sebab jangankan sampai bisa kembali lagi sebagai seorang istri maupun sebagai inang bagi anak kandungnya sendiri. Segala kesalahannya dulu tidak dimaafkan oleh suaminya. Sungguh kasihan dan perihnya hidup Nuripah.

 

Terimakasih telah berkunjung di UPHil n RAGHiel. baca juga simopsis  Kubah Karya "Ahmad Tohari" dan Belenggu karya Armijn Pane jangan lupa tinggalkan komentar untuk jejak anda telah berkunjung di blog saya. Maju terus Pendidikan Indonesia..!!

 

Kubah Karya "Ahmad Tohari"

Kubah adalah novel pertama karya Ahmad Tohari yang mengisahkan masalah kehidupan tokoh Karman dengan latar belakang peristiwa 30 September 1965. Dalam novel ini Ahmad Tohari melukiskan penderitaan, pengalaman lahir batin, serta kehidupan religi tokoh Karman ketika bergabung dengan partai komunis. Novel Kubah sudah mengalami tiga kali cetakan yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, dimulai dari tahun 1995, 2001 dan tahun 2005. Novel yang penulis gunakan adalah novel cetakan III tahun 2005. Novel Kubah juga pernah diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, pada tahun 1980

Novel Kubah karya ahmad tohariJudul: Kubah

Karya: Ahmad Tohari
Ringkasan

Karman hidupnya bersama ibu dan adik perempuannya setelah ditinggalkan oleh ayahnya. Ayahnya diciduk oleh para pemuda revolusi. Ayahnya ditangkap para pemuda karena tidak mau berjuang dengan para pemuda revolusi.

Karena kasihan dan sayang kepada Karman, Haji Bakir mengambil Karman untuk bergabung dalam keluarganya. Ajakan tersebut tidak ditolak oleh Karman dan diapun mulai hidup dengan keluarga Haji Bakir. Keluarga Haji Bakir sangat sayang kepadanya, karena perangai Karman yang baik dan sopan. Malah, Karman diperlakukan sama seperti anaknya sendiri, Rifah. Di samping membantu pekerjaan-pekerjaan lainnya dalam rumah tangga ,Karman juga mengasuh si Rifah. Oleh Haji Bakir, Karman disekolahkan di Sekolah Rakyat dan bersekolah sampai tamat. Setelah tamat dari sekolah Rakyat, Karman melanjutkan ke SMP berkat pertolongan biaya dari Pamannya, yaitu Hasyim seorang mantan laskar Hasbullah.

Tamat dari SMP, Karman tidak mampu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dengan alasan tidak mempunyai biaya. Nah, dimasa tenggang ini, Karman kedatangan Triman, seorang kader PKI yang berjanji akan memberikan pekerjaan pada Karman. Betapa gembiranya hati Karman karena telah mendapatkan penawaran tersebut. Kemudian keduanya menjadi dua orang sahabat yang karib. Secara perlahan-lahan namun pasti, Triman yang dibantu temannya yang lain berhasil memasukkan ajaran komunis kepada Karman. Lama kelamaan pengaruh ajaran komunis itu, semakin membesar dalam jatidiri Karman. Hal tersebut dibuktikan yaitu ketika lamarannya untuk menikahi Rifah ditolak secara halus oleh Haji Bakir. Padahal, penolakan tersebut bukan berarti Haji Bakir tidak suka bermenantukan Karman namun, karena lamaran Karman terlambat oleh seorang pemuda Pakistan yang terlebih dahulu melamar Rifah. Pemuda tersebut bernama Abdul Rahman. Dia adalah saudagar batu akik. Namun, karena hasutan yang begitu kuat oleh Triman dan Margo, alasan Haji Bakir itu tidak bisa ia terima. Dia sangat benci dan dendam kepada Haji Bakir, namun cintanya kepada Rifah masih tetap membara di hatinya.

Karena kekecewaanya itu, hati dan pikiran Karman menjadi berantakan. Dia sangat frustasi. Dalam keadaan yang begitu, Triman dan Margo dapat dengan mudah mengajarkan ajaran-ajaran komunis ke dalam diri Karman. Hal itu,telah membuat Karman menjadi seorang kader PKI. Setelah suami Rifah meninggal dunia karena tabrakan, Karman segera melamar Rifah untuk yang kedua kalinya. Namun, lamarannya ditolak yang kedua kalinya oleh Haji Bakir, sebab dalam penglihatan Haji Bakir Karman sekarang bukanlah Karman yang dulu lagi. Dia sudah menjadi kader PKI dan dia sudah meninggalkan sholat sebagai seorang muslim. Hal itu membuat dendam Karman kepada Haji Bakir makin menggumpal saja. Selanjutnya oleh Triman dan kawan- kawan PKI nya, Karman diangkat menjadi sekretaris PARTINDO, sebuah organisasi di bawah payung komunis.

Sebagai seseorang yang berpengaruh dalam PKI, Karman hampir berubah total sikap hidupnya. Dia hampir sudah tidak punya iman kepada Tuhan. Pandangannya terhadap orang lain di luar komunis begitu sinis dan kasar. Malah pamannya sendiri, dia sudah berani menentang dan melawan. Hatinya sedikit terobati ketika muncul seorang gadis yang bernama Marni. Kedua insan tersebut akhirnya menikah secara resmi sampai mempunyai seorang anak, yaitu Jabir. Tapi akibat kiprah organisasi di Partindo dalam mendukung sebuah revolusi fisik yang dilakukan PKI terhadap Pemerintah, Karman terpaksa melarikan diri. Namun, Dia tertangkapa sebulan kemudian. Namun, sewaktu ditangkap Karman sedang sakit parah sehingga dia tidak dijatuhi hukuman mati, karena para penangkapnya merasa iba terhadap Karman. Akhirnya, Karman dijatuhi hukuman buangan ke Pulau Buru.

Selama menjalani pembuangan di Pulau Buru, secara berangsur- angsur kesadaran Karman sebagai manusia yang shaleh akhirnya muncuk kembali. Hal tersebut berkat kerja keras Kapten Somad yang selalu mengajarkan masalah-masalah agama kepada Karman. Dia mulai menyadari segala penderitaan yang selama ini menimpanya adalah semua cobaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap hambanya, agar hamba- Nya mempunyai iman yang kuat. Semua itu harus diterima dengan lapang dada. Makanya, sewaktu datang surat dari Marni istrinya yang meminta izin padanya karena Marni hendak menikah lagi dengan laki- laki lain. Walaupun, Karman berat hati untuk memberikan izin pada istrinya.

Setelah habis, masa tahanan buangan di Pulau Buru, Karman kembali ke desanya. Yaitu Pagetan dengan membawa sikap hidup yang matang dan beriman. Kedatangan Karman disambut baik oleh warga Desa Pagetan. Tak lama kemudian, anak kandungnya Tini menikah dengan Jabir anak kandung Rifah. Karman sangat bahagia dengan kenyataan peneriman dirinya oleh masyarakat desa. Sebagai bukti rasa syukurnya pada Sang Pencipta Alam Semesta dan sekaligus rasa terima kasihnya pada masyarakat desa Pagetan. Karman mempersembahkan sebuah kubah masjid untuk masjid di desanya. Kubah tersebut bertuliskan:“ Hai jiwa yang tentram, yang telah sampai kebenaran yang hakiki. Kembalilah engkau kepada Tuhanmu. Maka masuklah engkau ke dalam barisan hamba- hamba- Ku.”

 

Terimakasih telah berkunjung di UPHil n RAGHiel. baca juga simopsis  Azab dan Sengsara karya Merari Siregar dan Belenggu karya Armijn Pane jangan lupa tinggalkan komentar untuk jejak anda telah berkunjung di blog saya. Maju terus Pendidikan Indonesia..!!

 

Azab dan Sengsara "Merari Siregar"


Judul: Azab Dan Sengsara
Karya: Merari Siregar
Ringkasan
Di kota Siporok, hidup seorang bangsawan kaya raya yang memiliki seorang anak laki-laki dan seorang perempuan (yang perempuan tidak dijelaskan leibh lanjut oleh pengarangnya). Anaknya yang laki-laki bernama Sutan Baringin. Dia sangat dimanja oleh ibunya. Segala kehendaknya selalu dituruti dan segala kesalahannya pun selalu dibela ibunya. Akibatnya, setelah dewasa, Baringin tumbuh menjadi seorang pemuda yang angkuh, berperangai jelek, serta suka berfoya-foya.
Oleh kedua orangtuanya, Sutan Baringin dinikahkan dengan Nuria, seorang perempuan baik-baik pilihan ibunya. Walaupun telah berkeluarga, Sutan Baringin masih tetap suka berfoya-foya menghabiskan harta benda kedua orangtuanya. Dia berjudi dengan Marah Said, seorang prokol bambu sahabat karibnya. Sewaktu ayahnya meninggal, sifat Sutan Baringin semakin menjadi, maskin suka berfoya-foya menghabiskan harta warisan orangtuanya. Akhirnya, dia bangkrut dan utangnya sangat banyak.
Dari perkawinannya dengan Nuria, Sutan Baringin mempunyai dua orang anak. Yang satu perempuan bernama Mariamin, sedangkan yang satunya lagi laki-laki (yang laki-laki tidak diceritakan pengarang). Akibat tingkah laku ayahnya, Mariamin selalu dihina oleh warga kampungnya akibat kemiskinan orangtuanya. Cinta kasih perempuan yang berbudi luhur ini dengan pemuda bernama Aminuddin terhalang oleh dinding kemiskinan orangtuanya.
Aminuddin adalah anak Bagianda Diatas, yaitu seorang bangsawan kaya-raya yang sangat disegani di daerah Siporok. Sebenarnya Baginda Diatas masih mempunyai hubungan sepupu dengan Sutan Baringin, ayah Mariamin. Ayah Baginda keduanya adalah kakak beradik.
Sejak kecil, Aminuddin bersahabat dengan Mariamin. Setelah keduanya beranjak dewasa, mereka saling jatuh hati. Aminuddin sangat mencintai Mariamin. Dia berjanji untuk melamar Mariamin bila dia telah mendapatkan pekerjaan. Keadaan Mariamin yang miskin tidak menjadi masalah bagi Aminuddin.
Aminuddin memberitahukan niatnya untuk menikahi Mariamin kepada kedua orangtuanya. Ibunya tidak merasa keberatan dengan niat tersebut. Dia benar-benar mengenal pula keluarganya. Keluarga Mariamin masih keluarga mereka juga sebab ayah Baginda diatas suami ibu Aminuddin, dengan Sutan Baringin, ayah Mariamin, adalah kakak beradik. Selain itu, dia juga merasa iba terhadap keluarga Mariamin yg miskin. Bila menikah dengan anaknya, dia mengharapkan agar keadaan ekonomi Mariamin bisa terangkat lagi.
Ayah Aminuddin, Baginda Diatas, tidak setuju dengan niat anaknya menikahi Mariamin. Jika pernikahan itu terjadi, dia merasa malu sebab dia merupakan keluarga terpandang dan kaya-raya, sedangkan keluarga Mariamin hanya keluarga miskin. Namun, ketidaksetujuannya tersebut tidak diperlihatkan kepada istri dan anaknya.
Dengan cara halus, Baginda Diatas berusaha menggagalkan pernikahan anaknya. Salah satu usahanya adalah mengajak istrinya menemui seorang peramal. Sebelumnya dia telah menitipkan pesan kepada peramal agar memberikan jawaban yang merugikan pihak Mariamin. Jelasnya, sang peramal memberikan jawaban bahwa Aminuddin tidak akan beruntung jika menikah dengan Mariamin.
Setelah mendengar jawaban dari peramal tersebut, ibu Aminuddin tidak bisa berbuat banyak. Dengan terpaksa, dia menuruti kehendak suaminya untuk mencarikan jodoh yang sesuai untuk Aminuddin. Mereka langsung melamar seorang perempuan dari keluarga berada. Oleh karena Aminuddin sedang berada di Medan, mencari pekerjaan, Baginda Diatas mengirim telegram yang isinya meminta Aminuddin menjemput calon istri dan keluarganya di stasiun kereta api Medan.
Menerima telegram tersebut, Aminuddin merasa sangat gembira. Dalam hatinya telah terbayang wajah Mariamin. Ia mengira bahwa calon istri yang akan dia jemput adalah Mariamin. Namun setelah mengetahui bahwa calon istrinya itu bukanlah Mariamin, hatinya menjadi hancur. Tapi sebagai anak yang berbakti terhadap orangtuanya, dengan terpaksa ia menikahi perempuan pilihan orangtuanya itu. Aminuddin segera memberitahukan kenyataan itu kepada Mariamin.
Mendengar berita itu, Mariamin sangat sedih dan menderita. Dia langsung pingsan tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, dia pun jatuh sakit. Stahun setelah kejadian itu, Mariamindan ibunya terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang kerani di Medan. Pada waktu itu, Kasibun mengaku belum mempunyai istri. Mariamin pun akhirnya diboyong ke Medan.
Sesampainya di Medan, terbuktilah siapa sebenarnya Kasibun. Dia hanyalah seorang lelaki hidung belang. Sebelum menikah dengan Mariamin, dia telah mempunyai istri, yang dia ceraikan karena hendak menikah dengan Mariamin. Hati Mariamin sangat terpukul mengetahui kenyataan itu. Namun, sebagai istri yang taat beragama, walaupun dia membenci dan tidak mencintai suaminya, dia tetap berbakti kepada suaminya.
Perlakuan kasar Kasibun terhadap Mariamin semakin menjadi setelah Aminuddin mengunjungi rumah mereka. Dia sangat cemburu pada Aminuddin. Menurutnya, penyambutan istrinya terhadap Aminuddin sangat di luar batas. Padahal, Mariamin menyambut Aminuddin dengan cara yang wajar. Namun, karena cemburunya yang sangat berlebihan, Kasibun menganggap Mariamin telah memperlakukan Aminuddin secara berlebih-lebihan. Akibatnya, dia terus-menerus menyiksa Mariamin.
Perlakuan Kasibun yang kasar kepadanya, membuat Mariamin hilang kesabaran. Dia tidak tahan lagi hidup menderita serta disiksa setiap hari. Akhirnya, dia melaporkan perbuatan suaminya kepada kepolisian Medan. Dia langsung meminta cerai. Permintaan cerainya dikabulkan oleh pengadilan agama di Padang.
Setelah resmi bercerai dengan  Kasibun, dia kembali ke kampung halamannnya dengan penuh kehancuran. Kesengsaraan dan penderitaan secara batin maupun fisiknya terus mendera dirinya dari kecil hingga dia meninggal dunia. Sungguh tragis nasibnya.