Berita Terbaru :

TENTANG KAMI

..Selamat Datang di Blog Milik si Uphil Unyue-unyue..

INGGRIANI ANDEWI PRAYOGI, S.Pd
Salam buat temen-temen Alumni SDN 1 BAGI, Alumni SMPN 1 BALEREJO, Alumni SMAN 1 NGLAMES dan temen-temen Alumni IKIP PGRI MADIUN

GHIBRATZ, S. Teler
Salam buat temen-temen Alumni SDN 2 SIDOMULYO, Alumni SMPN 1 WONOASRI, Alumni SMAN 1 MEJAYAN dan temen-temen Alumni UNMER MADIUN

Struktur & Fungsi Organ Batang pada Tumbuhan

Struktur Fungsi Organ Batang pada Tumbuhan. Organ pada tumbuhan dibangun oleh jaringan-jaringan. Fungsi yang dijalankan oleh organ kadang sangat berbeda dengan fungsi jaringan-jaringan yang menyusunnya. Terdapat tiga organ utama pada tumbuhan, yaitu batang, daun, dan akar. Simaklah uraian berikut ini.

Struktur Fungsi Organ Batang. Batang berfungsi sebagai penunjang bagian atas tumbuhan, serta sebagai penghubung antara akar dan daun. Struktur batang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan akar. Perbedaan utamanya adalah pada batang tidak terdapat lapisan endodermis. Jika batang dipotong melintang, bagian batang dari luar ke dalam, yaitu epidermis, korteks, dan empulur. Epidermis tersusun atas lapisan sel yang rapat tanpa ruang antarsel. Setelah dewasa, seperti pada akar, fungsi epidermis digantikan oleh pertumbuhan kambium gabus. Kambium gabus memiliki sel yang mengalami penebalan gabus untuk mencegah penguapan air dari batang.

Perlindungan kambium gabus ini sangat rapat sehingga gas pun tidak dapat masuk ke dalam sel. Namun demikian, kambium gabus seringkali membentuk lentisel, struktur yang terdiri atas sel-sel dan tersusun longgar yang berperan dalam pertukaran gas. Korteks pada batang, terdiri atas beberapa jenis jaringan, yaitu jaringan parenkim dan jaringan penyokong yang tersusun atas sklerenkim dan kolenkim. Susunan sel-sel parenkim tidak beraturan sehingga banyak terdapat ruang antarsel.

Sel-sel parenkim berdinding tipis dan pada saat batang masih muda, terdapat vakuola yang berisi makanan cadangan berupa amilum. Jaringan pembuluh pada batang dikotil tersusun dalam lingkaran. Floem di bagian luar lingkaran dan berbatasan langsung dengan korteks. Sementara itu, xilem berbatasan dengan empulur dan terletak berhadapan dengan floem. Di antara kedua jaringan tersebut, terdapat kambium pembuluh yang bersifat meristematik. Pada kayu yang dewasa, kambium pembuluh telah tumbuh ke arah luar membentuk floem sekunder dan ke arah dalam membentuk xilem sekunder (Gambar 1).

Gambar 1 Kambium pembuluh berdiferensiasi di antara xilem primer dan floem primer.

Empulur yang berada di bagian dalam lingkaran kambium pembuluh, sebenarnya terdiri atas jaringan parenkim yang juga berfungsi sebagai penyimpan makanan cadangan . Pada saat dewasa, beberapa jenis tumbuhan kayunya berlubang di bagian tengah. Hal tersebut disebabkan empulurnya mengalami degenerasi sehingga menciptakan ruang kosong di tengah kayu. Susunan lapisan pada batang monokotil tidak terlalu berbeda dengan susunan lapisan batang dikotil. Pada batang monokotil, terdapat epidermis, korteks, jaringan pembuluh, dan empulur. Empulur pada monokotil sering pula disebut sebagai jaringan dasar. Empulur umumnya terdiri atas jaringan parenkim yang memiliki makanan cadangan.

A. Batang Dikotil.
Pada jaringan primer batang dikotil terdapat bagian-bagian berikut:

1. Epidermis.
Lapisan Epidermis terletak paling luar dari organ batang. Epidermis terdiri atas lapis sel yang dinding selnya sudah mengalami penebalan yang disebut kutikula. Lapisan kutikula ini berfungsi untuk melindungi batang terhadap kekeringan. Sel-sel epidermis biasanya berbentuk rektanguler dan tersusun rapat tanpa adanya ruang antarsel. Susunan ini menyebabkan terjadinya pengurangan transpirasi dan dapat melindungi jaringan di sebelah dalamnya dari kerusak an dan serangan hama. Pada beberapa jenis tumbuhan, di sebelah dalam dari epidermis batang dijumpai satu atau beberapa lapis sel yang berasal dari initial yang tidaksama dengan epidermis yang disebut hipodermis. Struktur hipodermis ini berbeda dengan sel-sel penyusun korteks. Epidermis dapat megalami deferensiasi membentuk derivat epidermis, antara lain stomata, trikoma, dan lain-lain.

2. Korteks
Korteks terdiri atas kolenkim yang susunannya berdesakan rapat dan parenkim yang longgar dengan banyak ruang antarsel. Pada beberapa tumbuhan, parenkim korteks bagian tepi mengandung kloroplas, sehingga mampu mengadakan proses fotosintesis. Parenkim ini disebut klorenkim.

3. Endodermis
Endodermis sering disebut juga floeterma atau sarung amilum karena banyak berisi butir-butir amilum. Pada beberapa tumbuhan, floeterma mengalami penebalan membentuk pita caspary. Endodermis terdiri atas satu lapisan sel saja dan berfungsi sebagai pemisah antara korteks dan silinder pusat.

4. Silinder Pusat atau Stele
Lapisan silinder pusat ini terdiri atas dua bagian:
a. Perisikel atau perikambium
Lapisan silinder pusat ini bersifat meristematis. Sel-sel pada lapisan perikambium aktif membelah dan menghasilkan sel-sel yang baru. Kemampuan meristematis inilah yang mengakibatkan batang tumbuhan dikotil dapat tumbuh besar. Sifat meristematis ini juga dapat diambil manfaatnya untuk memperbanyak tumbuhan, yaitu dengan cara mencangkok. Pada kegiatan mencangkok, kulit tumbuhan dan kambium harus dibersihkan agar akar dapat tumbuh pada tempat yang dicangkok. Budidaya tanaman dengan cara mencangkok dapat dimanfaatkan untuk diambil nilai ekonomisnya.
b. Berkas pengangkut, terdiri atas xilem dan floem.
Di antara xilem dan floem terdapat kambium intravaskuler. Kambium ini menyebabkan pertumbuhan sekunder berlangsung terus-menerus, tetapi pertumbuhan sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan. Pada saat air dan zat hara tersedia cukup, yaitu pada musim penghujan, maka pertumbuhan sekunder terhenti. Jika keadaan lingkungan tidak mendukung, maka pertumbuhan sekunder berlangsung lagi. Demikian silih berganti sehingga menyebabkan pertumbuhan sekunder batang tampak berlapis-lapis. Setiap lapis terbentuk selama satu tahun dengan bentuk melingkar konsentris mengelilingi pusat. Lingkaran konsentris tersebut dinamakan lingkaran tahun. Perhatikan (Gambar 2)
Gambar 2 Silinder pusat dan lingkaran tahun pada batang

B. Batang Monokotil.
Pada batang monokotil, ukuran meristem apikalnya kecil. Jika dilihat, struktur penampang melintang batang tanaman monokotil, dapat dijumpai struktur jaringan sebagai berikut.

1. Epidermis
Epidermis merupakan struktur terluar yang disusun oleh satu lapis sel. Epidermis dilengkapi dengan stomata dan bulu-bulu. Pada umumnya epidermis tumbuhan monokotil sama dengan tumbuhan dikotil.

2. Korteks
Jaringan korteks terdiri atas beberapa lapis sel dengan rongga-rongga udara di antara sel-selnya. Fungsi jaringan ini yaitu sebagai tempat pertukaran gas. Pada tumbuhan monokotil, korteks kadang-kadang terdeferensiasi secara baik atau kadang sangat sempit, bahkan tidak dapat dibedakan dengan stele.

3. Stele
Pada tumbuhan monokotil, batas korteks dan stele biasanya tidak terlalu terlihat. Xilem dan floem terdapat pada lapisan stele ini dan susunan berkas pengangkut yaitu bertipe kolateral tertutup, sehingga batang pada tumbuhan monokotil tidak mengalami pertumbuhan membesar.

4. Empulur
Empulur terletak di bagian paling dalam dan tersusun dari jaringan parenkim. Pada beberapa tumbuhan, empulur ada yang menghilang, misalnya pada tumbuhan padi.

Perbedaan utama antara batang dikotil dan monokotil adalah susunan jaringan pembuluhnya lihat pada (Gambar 3).

Gambar 3 Perbedaan Jaringan pembuluh pada tanaman (a) monokotil dan (b) dikotil.
Pada batang tumbuhan dikotil, susunan jaringan pembuluh berada dalam satu lingkaran. Pada batang tumbuhan monokotil, jaringan pembuluhnya tersebar di empulur. Setiap floem dan xilem tersebut diselubungi oleh lapisan sel yang disebut seludang berkas pengangkut.

LULUS TES K-II Belum tentu diangkat Jadi PNS

LULUS TES K-II Belum tentu diangkat Jadi PNS
Info bagi peserta tes CPNS Honorer Kategori 2 yang sudah dinyatakan Lulus Tes mohon dibaca kutipan berikut ini dari menpan.go.id

JAKARTA – Meskipun pengumuman kelulusan tenaga honorer kategori dua belum berakhir, namun reaksi dari peserta, terutama yang tidak lulus mulai mengalir. Salah satu pertanyaan yang mengemuka  adalah banyaknya peserta yang lulus merupakan tenaga honorer yang masuk pasca tahun 2005.
Hal itu tidak sesuai kriteria yang ditetapkan dalam PP No. 56/2012 tentang Perubahan Kedua atas PP No. 48/2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer. Karena itu, Panitia Seleksi CPNS akan terus mengawal proses pemberkasannya,  sehingga Nomor Induk Pegawai (NIP)-nya tidak akan keluar.

Deputi SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Setiawan Wangsaatmadja mengegaskan, pemerintah akan bertindak tegas dalam menangani kasus seperti itu. “Silakan saudara menyampaikan data-data yang valid, kalau ada peserta yang lulus ternyata tidak memenuhi kriteria,” ujarnya  saat menerima audiensi tenaga honorer kategori II dari Kabupaten Sumedang, yang didampingi oleh Bupati Sumedang Ade Irawan.

Pasca pengumuman K-II Provinsi Jawa Barat, termasuk Kabupaten Sumedang, muncul sejumlah dugaan bahwa banyak peserta yang masuk sebagai honorer kategori II dan mengikuti tes, namun  masuknya sesudah Januari tahun 2005. Padahal, menurut ketentuan, tenaga honorer adalah mereka yang sudah bekerja minimal satu tahun pada bulan Januari 2005.

Setiawan yang didampingi Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kemeneterian PANRb Herman Suryatman mengatakan, dari lembar jawab komputer (LJK) yang diolah, Panselnas tidak dapat mendeteksi data sampai sedetail itu. “Data itu merupakan usulan dari daerah,” ujarnya.

Namun pemerintah tidak akan gegabah dalam pengangkatan seseorang menjadi CPNS, khususnya dari tenaga honorer kategori 2. Jangan sampai yang tidak berhak  malah melenggang, dan lolos menjadi CPNS. Karena itu, dalam pemberkasan, menurut Setiawan,  semua akan dapat diketahui, sejauh mana kebenarannya. “Kalau ternyata tidak sesuai ketentuan PP 56/2012, maka NIP-nya tidak akan dikeluarkan, dan batal menjadi CPNS,” tambahnya.

Namun Setiawan juga minta kepada pihak-pighak yang memiliki data valid, agar menyampaikannya ke BKD, Bupati, BKN, dan Kementerian PANRB.
Menanggapi hal itu, Bupati Sumedang langsung memutuskan akan membentuk tim investigasi untuk menelusuri data-data yang tidak benar. “Saya akan segera membentuk Tim Investigasi,” ujarnya.

Terhadap sikap yang diambil Bupati Sumedang, Karo Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian PANRB Herman Suryatman mendukung. Hal seperti itu, dapat dilakukan juga oleh kepala daerah lain untuk menelusuri berbagai tindakan kecurangan.

Dengan adanya investigasi dan laporan yang masuk, diperkirakan akan banyak tenaga  honorer K-2 yang lulus pada akhirnya dianulir. Persoalan berikutnya, apakah formasi yang kosong itu bisa diisi oleh tenaga honorer K-2 lain, yang memenuhi kriteria.

“Untuk yang ini, Panselnas akan membahas lebih lanjut,” ujar Herman saat menerima audiensi tenaga honorer K-2 dari Bandung, Cimahi, dan Lampung, sesaat setelah mendampingi Deputi SDM Aparatur menerima rombongan dari Sumedang. (ags/HUMAS MENPANRB)

SUMBER : menpan.go.id

Pelaksanaan Sertifikasi Guru Molor hingga Maret 2014

Pelaksanaan sertifikasi guru atau pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) periode 2013 terancam molor. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah mengeluarkan surat bahwa pelaksanaan sertifikasi itu berpotensi rampung Maret tahun depan. Tetapi mereka tetap berupaya sertifikasi rampung tahun ini juga.

Banyak sekali kerugian di pihak guru jika pelaksanaan sertifikasi periode 2013 ini rampung hingga Maret 2014 nanti. Diantaranya adalah urusan pencairan tunjangan profesi bagi guru peserta sertifikasi. Seperti diketahui setiap guru yang lulus sertifikasi, akan mendapatkan sertifikat sebagai guru profesional. Untuk kompensasinya, guru tersebut mendapatkan tunjangan sertifikasi senilai satu kali gaji pokok (untuk guru PNS) dan Rp 1,5 juta per bulan utnuk guru non PNS.

Seandainya tahun ini pelaksanaan sertifikasi guru benar-benar baru rampung pada Maret 2014, otomatis tunjangan profesi untuk 250 ribu guru peserta gelombang 2013 baru cair 2015 nanti. "Guru tentu sangat dikorbankan jika benar pelaksanaan sertifikasi ini hingga Maret tahun depan. Otomatis tunjangan profesinya cair 2015," tutur Ketua Umum Pegurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistyo kemarin.

Dia mengatakan bahwa aturannya tunjangan sertifikasi itu dicairkan setahun setelah proses sertifkasi rampung. Sulistyo menuturkan jika sertifikasi periode 2013 berjalan normal dan beres tahun ini juga, berarti tunjangan profesinya bisa cair 2014 nanti.

Pria yang juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Provinsi Jawa Tengah itu menuturkan, PGRI memiliki dua solusi yang ditawarkan ke pemerintah. Pertama adalah meningkatkan kapasitas peserta sertifikasi di masing-masing Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Selain itu juga menambah kampus yang ditunjuk menjadi LPTK. "Jika kapasitasnya tetap seperti sekarang, tentu tidak sanggup. Dan konsekuensinya sertifikasi molor hingga 2014 nanti," kata dia.

Solusi berikutnya adalah mengubah ketentun baru pencairan tunjangan sertifikasi. Jadi meskipun selesai 2014, tunjangan bisa dicairkan tahun itu juga. "Tidak menunggu sampai 2015 seperti pada umumnya," kata Sulistyo. Dia menegaskan pelaksanaan sertifikasi guru 2013 yang berpotensi molor hingga 2014 murni kesalahan penjadwalan di Kemendikbud. Untuk itu dia keberatan kalau sampai guru dirugikan.

Mendikbud Mohammad Nuh menuturkan, Kemendikbud tetap berupaya menuntaskan sertifikasi 2013 rampung tahun ini juga. "Bisa jadi akan kita tambah kapasitas pelatihannya," kata Nuh.

Pada intinya dia membenarkan bahwa pencairan tunjangan sertifikasi guru itu setahun setelah pelaksanaan PLPG. "Misalnya sertifikasi 2013 selesai tahun ini juga, berarti tahun depan (2014) guru sudah bisa menerima tunjangan profesi," katanya.

Sebaliknya jika nanti sertifikasi periode 2013 molor hingga rampung Maret 2014, otomatis pencairan tunjangannya baru terlaksana 2015. "Kita tetap berupaya keras supaya rampung tahun ini juga," tegas Nuh.

SUMBER : JPNN.com

Problematika Pendekatan STM dalam Pembelajaran

wahh ketemu lagi yaa..? ini untuk posting saya yang terakhir dengan pokok bahasan Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran. jika Sobat UPHil n RAGHiel mulai masuknya dari sini pasti akan kesulitan memahami, sebaiknya mulai dari awal pembahasa yaitu Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran. Tema posting yang terakhir ini Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran sedikit lebih panjang dari sebelumnya. jika dari ke empat posting ini di rangkai jadikan satu maka akan jadi sebuah Makalah. Ok langsung aja yuk..

Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran

Mitchener & Anderson (1989) dalam Raja (2009), melaporkan hasil penelitian tentang perspektif guru dalam penyusunan dan pelaksanaan sebuah pembelajaran dengan pendekatan STM bahwa guru memiliki hambatan dalam penerapan pendekatan ini dan menunjukkan kekhawatiran berupa ketidaknyamanan dengan pengelompokan, ,ketidakpastian tentang evaluasi, , andfrustrasi tentang populasi siswa, dan kebingungan peran guru. Hasil-hasil temuan tersebut akan berguna dalam menyelenggarakan program pengembangan guru.

Kekhawatiran terhadap konten dapat terjadi karena persentasi waktu yang rendah bagi peran guru dalam transfer pengetahuan kepada anak. Guru lebih banyak berperan dalam mengarahkan pengetahuan anak pada upaya penemuan masalah dan konseptualisasi berdasarkan disiplin ilmu. Penanaman konsep lebih banyak dilakukan pada momen-momen tertentu secara tepat, sehingga memiliki tingkat retensi yang lebih lama.

Bagi sekolah dengan populasi siswa yang tinggi dalam kelas, dapat menjadi masalah tersendiri bagi guru. Jika kelompok yang dibentuk dalam kelas banyak, guru akan kewalahan dalam  pendampingan kelompok dan pembimbingan kajian masalah. Sedangkan ketika kelompok dikurangi (populasi dalam kelompok tinggi) konsekuensinya dapat terjadi peran yang tidak efektif bagi anak. Sehingga penggunaan pendekatan STM, harus dirancang untuk melibatkan pihak lain dalam proses pembelajaran.

Kompleksitas masalah dan sumber informasi yang dapat terlibat dalam pembelajaran STM, harus dapat disikapi secara profesional oleh guru. Ketepatan masalah yang dipilih oleh siswa untuk dikaji sangat ditentukan oleh peran guru dalam mengekspose fakta-fakta. Penentuan prosedur analisis dan sumber data yang akurat, memerlukan bimbingan dan arahan dari guru. Demikian pula, dalam hal kajian data dan konseptualisasinya dibutuhkan peran guru dalam memberikan klarifikasi dan penguatan atas hasil-hasil kerja dari tiap kelompok.

Kompleksitas masalah dan sumber informasi juga berimplikasi pada beragamnya fokus anak dalam mengkaji konsep pengetahuan. Konsekuensinya, dibutuhkan kecermatan dalam menyusun alat evaluasi terutama pada domain penguasaan konsep. Penggunaan alat penilaian yang variatif, dapat meningkatkan akurasi data yang dibutuhkan dalam mengevaluasi perkembangan anak.

Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam PembelajaranAisyah (2007), mengemukakan empat hambatan pembelajaran dengan pendekatan STM, yaitu waktu, biaya, kompetensi guru, dan komunikasi dengan stakeholder (orang tua, masyarakat, dan birokrat). Waktu merupakan faktor penting untuk menentukan materi-materi apa yang akan diajarkan pada siswa. Pelaksanaan seluruh fase pembelajaran pada konten tertentu, kadang-kadang membutuhkan waktu yang panjang sehingga memerlukan analisa yang baik untuk memilih dan mengalokasikan waktu untuk implementasinya. Siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data dari nara sumber secara mendetail. Oleh karena itu, siswa harus kerjasama dengan baik antar anggota kelompok agar data yang diperoleh dapat maksimal. Beberapa sekolah memilih waktu di sore hari atau jalur ekstrakurikuler untuk penerapan STM agar tidak terganggu dengan aktivitas belajar yang lain. Bahkan, gelar kasus (show case) yang dilanjutkan dengan refleksi diri, biasanya dilaksanakan pada akhir semester (Aisyah, 2007).

Biaya merupakan faktor yang penting dalam implementasi STM. Biaya dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan STM dari mulai identifikasi masalah, sampai pelaksanaan gelar kasus (show case). Umumnya, pihak sekolah belum mengalokasikan biaya untuk kegiatan pembelajaran STM. Oleh karena itu, pihak sekolah khusunya hendaknya memberi dorongan moril maupun materil untuk terselenggaranya penerapan STM ini. Dalam hal dorongan materil, dapat dirintis pembiayaan penerapan metode ini secara swadaya (Aisyah, 2007).

Kompetensi guru sangat penting dalam pembelajaran STM, terutama dalam penguasaan materi inti, problem solving dan hubungan interpersonal. Umumnya guru belum memiliki pengetahuan yang baik tentang pendekatan STM sehingga penerapan pendekatan ini masih sangat jarang ditemukan. Selain itu, paradigma guru dalam menginterpretasikan dan mengembangkan kurikulum, masih berbasis konten sehingga guru merasa dituntut untuk menyampaikan materi tepat pada waktunya dan lupa berinovasi dalam pembelajaran (Aisyah, 2007).

Kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga terkait diperlukan pada saat siswa merencanakan untuk mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Misalnya mengunjungi rumah sakit daerah, observasi pada pabrik produk bahan makanan dan sebagainya. Untuk kelancaran kegiatan, anak perlu dibekali surat pengantar dari sekolah, atau sekolah melakukan pemrosesan izin ke lembaga yang terkait sebelum kegiatan dilaksanakan. Selain itu, komunikasi dengan orang tua perlu diintensifkan. Orang tua perlu diberi pemahaman sehingga seluruh aktivitas anak yang menyita waktu dapat dimaklumi atau mendapat support dari orang tua (Aisyah, 2007).

Menurut Aisyah (2007), hambatan lain dalam penerapan pendekatan ini adalah siswa belum terbiasa untuk berpikir kritis dan belajar mengambil pengalaman di lapangan, sehingga dibutuhkan kesabaran dan ketekunan guru untuk mengarahkan dan membimbing siswa dalam pembelajaran. Untuk menerapkan pendekatan ini, peranan guru dimulai dari perencanaan pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, motivator dan pembimbing. Pendekatan STM menuntut kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian yang baik.

Kesimpulan

  1. Pendekatan STM pada hakekatnya dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai-nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan siswa sehari-hari sebagai anggota masyarakat.

  2. Implementasi pendekatan STM, dapat dilakukan melalui empat fase yaitu invitasi, eksplorasi, mengusulkan penjelasan dan solusi, dan mengambil tindakan.

  3. Problematika dalam penerapan pendekatan dapat berupa concerns over conkekhawatiran konten, discomfort with grouping,ketidaknyamanan dengan pengelompokan, uncertainties about evaluation,ketidakpastian tentang evaluasi, frustrations about student population, andfrustrasi tentang populasi siswa, dan confusion over the teacher’s role.kebingungan peran guru, waktu, biaya, kompetensi guru, dan komunikasi dengan stakeholder.

Daftar Pustaka

Aisyah. 2007. Penerapan Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X SMA Negeri 15 Semarang. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Bennett, Judith, S. Hogarth, F. Lubben . 2003. Review “A systematic review of the effects of context-based and Science-Technology-Society (STS) approaches in the teaching of secondary science”. EPPI-Centre University of London. Dari  http: //eppi.ioe.ac.uk/ , diakses tanggal 6 Oktober 2009.

Bennett, Judith, S. Hogarth, F. Lubben dan A. Robinson. 2005. Review “The effects of context-based and Science-Technology-Society (STS) approaches in the teaching of secondary science on boys and girls, and on lower-ability pupils”. EPPI-Centre University of London. Dari  http: //eppi.ioe.ac.uk/ , diakses tanggal 6 Oktober 2009.

Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi Masyarat: Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Raja, Kenneth P. 2009. Examintion of the science-technology-society with curriculum approach. http: //www.cedu.niu.edu/scied/courses/ciee344/course files_king/sts_reading.htm. Diakses tanggal 6 Oktober 2009.

Sumintono, Bambang. 2008. Mengemas Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pengajaran Sekolah. Dari http: //deceng.wordpress.com/ , diakses 25 September 2009.

Widyatiningtyas, Reviandari. 2009. Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budaya. http: //educare.e-fkipunla.net. Diakses 25 September 2009.

Yager, Robert E. 1994. Assessment Result with the Science/Technology/Society Approach. Science and Children (Journal). Pdf. File.

Cuman ini yang bisa saya Share Terimakasih kali ini. jika Anda ingin Copy Makalah ini secara lengkap bisa Klik disini.

Referensi :
1. Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran
2. Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat
3. Implementasi pendekatan (STM) dalam Pembelajaran Biologi
4. Hubungan antara STM (Sains, Teknologi dan Masyarakat) dalam Pengajaran Sains

 

Tag : Implementasi pendekatan (STM) Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi, Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran, Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat, Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran

Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat

Assalamuallaikum sobat UPHil n RAGHiel.. ketemu untuk yang kedua kalinya, setelah kemaren saya postingkan Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran dan untuk hari ini saya posting kelanjutannya Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat untuk Anda yang belum sempat baca posting saya yang pertama baca dulu yaa..?? Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran. menyingkat waktu langsung TKP saja….

Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat

Pendekatan Sains, Teknologi dan masyarakat (STM) adalah pengindonesiaan dari Science-Technology-Society (STS) yang pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, dan selanjutnya berkembang di Inggris dan Australia. National Science Teacher Association atau NSTA, mendefinisikan pendekatan ini sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Dengan volume informasi dalam masyarakat yang terus meningkat dan kebutuhan bagi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih mendalam, maka pendekatan STM dapat sangat membantu bagi anak. Oleh karena, pendekatan ini mencakup interdisipliner konten dan benar-benar melibatkan anak sehingga dapat meningkatkan kemampuan anak. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai-nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan MasyarakatPendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam pandangan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat, melatih kepekaan penilaian peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi (Poedjiadi, 2005). Menurut Raja (2009), keputusan yang dibuat oleh masyarakat biasanya memerlukan penggunaan teknologi untuk melaksanakannya. Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk menyimpan informasi. Peranan penting yang dimiliki oleh teknologi dapat berfungsi sebagai sarana tindakan dan penyidikan dalam pendekatan STM. Data juga menyiratkan sifat ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang di semua masyarakat.

Sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia.  Sedangkan masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi (Widyatiningtyas, 2009). Menurut Widyatiningtyas (2009), pendekatan STM dapat menghubungkan kehidupan dunia nyata anak sebagai anggota masyarakat dengan kelas sebagai ruang belajar sains. Proses pendekatan ini dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak dalam mengidentifikasi potensi masalah, mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah, mempertimbangkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan konsekuensi berdasarkan keputusan tertentu.

Pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum dan tujuan pendidikan sains secara khusus, yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien, 1992 dalam Widyatiningtyas, 2009).

Untuk penyusunan materi pendidikan sains, hendaknya merupakan akumulasi dari konten, proses, dan konteks. Konten, menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip, teori, model, dan terminologi. Proses, berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan konten. Konteks, berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan zaman. Benneth et. al. (2005) melaporkan, bahwa pendekatan STM merupakan pendekatan berbasis konteks yang memiliki peranan yang sangat penting dalam memotivasi anak dan mengembangkan keaksaraan ilmiah mereka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berkemampuan rendah. Dengan demikian, tujuan pendekatan STM adalah untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan lingkungannya (Pudjiadi, 2005).

Menurut Rusmansyah (2003) dalam Aisyah (2007), pendekatan STM dilandasi oleh tiga hal penting yaitu:

  1. Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.

  2. Proses belajar-mengajar menganut pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa anak membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan.

  3. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri atas ranah pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan aplikasi.

Program pembelajaran dengan pendekatan STM pada umumnya mempunyai karakteristik, sebagai berikut:

  1. Identifikasi masalah-masalah setempat.

  2. Penggunaan sumber daya setempat yang digunakan dalam memecahkan masalah.

  3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah.

  4. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan sekolah.

  5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.

  6. Isi dari pembelajaran bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam kelas.

  7. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.

  8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.

  9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan.

  10. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.

Selanjutnya bisa dibaca Disini

Referensi :
1. Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran
2. Implementasi pendekatan (STM) dalam Pembelajaran Biologi
3. Hubungan antara STM (Sains, Teknologi dan Masyarakat) dalam Pengajaran Sains
4. Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran

 

 Tag : Implementasi pendekatan (STM) Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi, Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran, Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat, Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran

Implementasi STM dalam Pembelajaran Biologi

Hallo Sobat UPHil n RAGHiel ketemu lagi.. ini Posting saya kali yang ketiga untuk melanjutkan posting saya yang kemaren Hakekat Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran bila Sobat belum baca yang pertama biar tidak bingung silahkan di Baca dulu mulai dari awal Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran. Ok cukup basa-basinya langsung saja..

Implementasi pendekatan (STM) Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi

Menurut Poedjiadi (2005), pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi, yaitu: Strategi pertama, menyusun topik- topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Pada strategi ini, di awal pembelajaran (topik baru) guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah di lingkungan anak atau menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada di lingkungan mereka. Masalah atau isu yang ada di lingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh anak sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru, akhirnya dibangun atau dikonstruksi pengetahuan pada anak. Dalam hal ini, pengetahuan yang berbentuk konsep-konsep.

Strategi kedua, menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam standar kompetensi atau kompetensi dasar. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu, suatu topik relevan yang telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapkan dalam pembelajaran. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum.

Strategi ketiga, mengajak anak untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di sela-sela kegiatan belajar berlangsung. Contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains, isu atau masalah, sebaiknya diperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya, atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi.

Untuk mengimplementasikan pendekatan STM dalam pembelajaran, Dass (1999) dalam Raja (2009) mengemukakan empat langkah kegiatan kelas yang secara komprehensif merupakan upaya mengembangkan pemahaman murid dan pelaksanaan suatu proyek STM yang berhubungan preservice  guru. Keempat langkah pembelajaran tersebut adalah fase invitasi atau undangan atau inisiasi, eksplorasi, mengusulkan penjelasan dan solusi, dan mengambil tindakan.

Fase Invitasi

Implementasi STM dalam Pembelajaran BiologiPada Preservice teachers (PSTs)atahap ini, guru melakukan brainstorming dan menghasilkan beberapa kemungkinan topik untuk penyelidikan. Topik dapat bersifat global atau lokal, tetapi harus merupakan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan bagi siswa. Menurut Aisyah (2007), Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan, yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas. Dengan demikian, tampak adanya kesinambungan pengetahuan, karena diawali dengan hal-hal yang telah diketahui siswa sebelumnya dan ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Eksplorasi

Pada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat-sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).

Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.

Fase Mengusulkan Penjelasan dan Solusi

Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan-rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).

Menurut Aisyah (2007), apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep-konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.

Fase Mengambil Tindakan

Berdasarkan temuan yang dilaporkan dalam fase ketiga (mengajukan penjelasan dan solusi), siswa menerapkan temuan-temuan mereka dalam beberapa bentuk aksi sosial. Jika tindakan ini melibatkan masyarakat sebagai pelaksana, misalnya membersihkan daerah berbahaya anak dapat menghubungi pejabat publik yang dapat mendukung pikiran dan temuan mereka. Anak menyajikan informasi ini kepada rekan-rekan kelas mereka. Proposal ini akan dimasukkan sebagai tindakan follow up (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).

Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi anak selama pembelajaran, dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam hal ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat, maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STM. Menurut Varella (1992) dalam Widyatiningtyas (2009), evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek:

  1. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari.

  2. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalah-masalah teknologi sehari-hari.

  3. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimanfaatkan masyarakat.

  4. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan, nutrisi, atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah.

Menurut Yagger (1994), penilaian terhadap proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan STM dapat dilakukan dengan menggunakan lima domain, yaitu:

  1. Konsep, yang meliputi penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi.

  2. Proses, penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep atau penyelidikan.

  3. Aplikasi, penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan.

  4. Kreativitas, pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk mevalidasi penjelasan secara personal.

  5. Sikap, mengembangkan perasaan positif dalam sains, belajar sains, guru sains dan karir sains.

Selanjutnya bisa dibaca Disini

Referensi :
1. Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran
2. Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat
3. Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran
4. Hubungan antara STM (Sains, Teknologi dan Masyarakat) dalam Pengajaran Sains

 

Tag : Implementasi pendekatan (STM) Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi, Pendekatan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat) dalam Pembelajaran, Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat, Problematika Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran

Pengertian, Faktor dan Macam Alofon

Pengertian Alofon | Factor yang mempengaruhi terjadinya alofon | Macam-macam Alofon | Alofon vocal | Alofon konsonan
Jumpa lagi dengan UPHil n RAGHiel Ok di pembahasan kali ini saya share Pengertian, Faktor dan Macam Alofon. Berhubung pembahasan kali ini sangat panjang biar pembaca tidak bosan maka saya jadi kan 2 posting dan untuk memulai kita bahas dulu Pengertian Alofon ?

ALOFON
Oleh
Inggriani Andewi P

1. Pengertian
alofon 1Alofon adalah variasi fonem yang tidak membedakan bentuk dan arti kata. Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari fonem. Pendistribusian alofon terbagi menjadi duayakni bersifat komplementer dan bersifat babas. Yang disebut bersifat komplementer adalah distri busi saling melengkapi distribusi yang tidak dapat dipisahkan meskipun dipisahkan juga tidak akan menimbulkan perubahan makna.Yang dimaksud bersifat pendistribusian bebas adalah alofon-alofon itu dapat digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Kalau diperhatkan bahwa alofon merupakan realisasi dari fonem maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon lain. Dengan kata lain yang nyata dalam bahasa adalah alofon.

2. Factor yang mempengaruhi terjadinya alofon
Variasi Fonem terjadi karena factor sebagai berikut:

  1. Variasi fonem terjadi karena posisi atau letak suatu fonem dalam suatu kata atau suku kata yang merupakan lingkungannya.
  2. Variasi fonem disebut juga variasi alofonis, yaitu alofon atau realisasi fonem dalam suatu lingkungan.
  3. Variasi bebas adalah variasi fonem, yang tidak mengubah makna pada suatu lingkungan tertentu.
  4. Variasi bebas dapat terjadi karena ketidaksengajaan.

3. Macam-macam Alofon
a. Alofon vocal
Alofon fonem /a/, yaitu
[a] jika terdapat pada semua posisi suku kata.
[aku]à/aku, [sabtu]à/sabtu/
Alofon fonem /i/, yaitu
[i] jika terdapat pada suku kata terbuka. Misalnya, [bibi]à /bibi/
[I] jika terdapat pada suku kata tertutup. Misalnya, [karIb]à /karib/
[Iy] palatalisasi jika diikuti oleh vokal [aou].à [kiyos]à /kios/
[ϊ] nasalisasi jika diikuti oleh nasal. [ϊndah]à /indah/
Alofon fonem /u/, yaitu
[u] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka.
[aku]à/aku/, [buka]à/buka/
[U] jika terdapat pada suku kata tertutup.
[ampUn]à/ampun/, [kumpul]à/kumpul/
[uw] labialisasi jika diikuti oleh[I,e,a], [buwih]à/buih/, [kuwe]à/kue/
Alofon fonem /ε/, yaitu
[e] jika terdapat pada suku kata terbuka dan tidak diikuti oleh suku kata yang
mengandung alofon [ε]. Misalnya, [sore]à /sore/
[ε] jika terdapat pada tempat-tempat lain. Misalnya, [pεsta]à/pesta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata terbuka. [p¶ta]à/peta/
[¶] jika terdapat pada posisi suku kata tertutup. [sent¶r]à/senter/
Alofon fonem /o/, yaitu
[o] jika terdapat pada suku kata akhir terbuka. [soto]à/soto/
[É] jika terdapat pada posisi lain. [jeblÉs]à/jeblos/

b. Alofon konsonan
Fonem /c/
[c] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[cari]à/cari/, [cacing]à/cacing/
Fonem /f/
[j] jika terdapat pada posisi sebelum dan sesudah vocal.
[fakir]à/fakir/, [fitri]à/fitri/
Fonem /g/
[g] bunyi lepas jika diikuti glottal.
[gagah]à/gagah/, [gula]à/gula/
[k>] bunyi hambat-velar-tak bersuara dan lepas jika terdapat di akhir kata.
[beduk>]à/bedug/,[gudek>]à/gudeg/
Fonem /h/
[h] bunyi tak bersuara jika terdapat di awal dan akhir suku kata.
[hasil]à/hasil, [hujan]à/hujan/
[H] jika berada di tengah kata
[taHu]à/tahu/, [laHan]à/lahan/
Fonem /j/
[j] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[juga]à/juga/, [jadi]à/jadi/
Fonem /k/
[k] bunyi lepas jika terdapat pada awal suku kata.
[kala]à/kala/, [kelam]à/kelam/
[k>] bunyi tak lepas jika tedapat pada tengah kata dan diikuti konsonan lain.
[pak>sa]à/paksa/, [sik>sa]à/siksa/
[?] bunyi hambat glottal jika terdapat pada akhir kata.
[tida?]à/tidak/, [ana?]à/anak/
Fonem /l/
[l] berada di awal dan akhir suku kata.
[lama]à/lama/, [palsu]à/palsu/
Fonem /m/
[m] berada di awal dan akhir suku kata
[masuk]à/masuk/, [makan]à/makan/
Fonem /n/
[n] berada di awal dan akhir suku kata.
[nakal]à/nakal/, [nasib]à/nasib/
[ň] berada di awal suku kata
[baňak]à/banyak/, [buňi]à/bunyi/
Fonem /Ƞ/
[Ƞ] berada di awal dan akhir suku kata.
[Ƞarai]à/ngarai/, [paȠkal]à/pangkal/
Fonem /p/
[p] bunyi konsonan hambat-bilabial-tak bersuara
[piker]à/piker/, [hapal]à/h
Fonem /p/
[p] bunyi lepas jika diikuti vokal.
[pipi]à/pipi/, [sapi]à/sapi/
[p>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[atap>]à/atap/, [balap>]à/balap/
[b] bunyi lepas jika diikuti oleh vocal.
[babi]à/babi/, [babu]à/babu/
[p>] bunyi taklepas jika terdapat pada suku kata tertutup, namun berubah lagi menjadi [b] jika diikuti lagi vokal.
[adap>]à/adab/, [jawap>]à/jawab/
apal/
Fonem /r/
[r] berada di awal dan akhir suku kata, kadang-kadang bervariasi dengan bunyi getar uvular [R].
[raja] atau [Raja]à/raja/, [karya] atau [kaRya]à/karya/
• Fonem /š/
[š] umumnya terdapat di awal dan akhir kata
[šarat]à/syarat/, [araš]à/arasy/
Fonem /t/
[t] bunyi lepas jika diikutu oleh vokal.
[tanam]à/tanam/, [tusuk]à/tusuk/
[t>] bunyi tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup.
[lompat>]à/lompat/,[sakit>]à/sakit/
[d] bunyi lepas jika diikuti vocal.
[duta]à/duta/, [dadu]à/dadu/
[t>] bunyi hambat-dental-tak bersuara dan tak lepas jika terdapat pada suku kata tertutup atau pada akhir kata.
[abat>]à/abad/,[murtat>]à/murtad/
Fonem /w/
[w] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[waktu]à/waktu/, [wujud]à/wujud/
• Fonem /x/
[x] berada di awal dan akhir suku kata.
[xas]à/khas/, [xusus]à/khusus/
Fonem /y/
[y] merupakan konsonan jika terdapat di awal suku kata dan semi vocal pada akhir suku kata.
[santay]à/santai/, [ramai]à/ramai/
Fonem /z/
[z] [zat]à/zat/, [izin]-à/izin/

ini Bab pertama yang bisa saya uraikan untuk Bab kedua silahkan klik Disini kalau sobat belum tau caranya bisa baca di panduan saya Disini. Jika artikel ini bermanfaat buat sobat silahkan tulis komentar atau sekedar kasih Like pada Facebook saya, Artikel ini boleh sobat share ke Facebook atau twiter caranya di atas judul artikel ini ada logo Facebook dan Twiter di situ sobat bisa share sebagai tautan di Facebook anda Terimakasih.

 

Peran Guru Dalam Pendidikan Dan Perkembangan Moral

PERAN GURU DALAM PENDIDIDKAN DAN PERKEMBANGAN MORAL

Oleh

INGGRIANI ANDEWI P

09141108/ V C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

IKIP PGRI MADIUN

2011

 

Tema: Guru dan masa depan moral pendidikan

Guru yang baik adalah seseorang yang dapat dijadikan panutan siswa. Guru, “di gugu lan di tiru” semboyan untuk orang yang terjun di dunia pendidikan. Seorang guru yang baik harus mempunyai 4 kompetensi yang meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesionalisme,dan kompetensi sosial.

Peran Guru Dalam Pendidikan Dan Perkembangan Moral anak didikKompetensi kepribadian, sebagai seorang guru yang baik hendaknya harus mempunyai kepribadian yang baik pula. Kepribadian yang baik adalah kepribadian yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepribadian tersebut dapat tercermin melalui tutur kata yang sopan. Sebagai seorang guru sudah sepantasnya bertutur kata yang baik dan terarah. Cara berpakaian yang sopan, sebagai seorang guru juga harus dapat mencerminkan kepribadiannya melalu pakaian yang digunakan sehari-hari. Walaupun di rumah kepribadian yang dimiliki seorang guru harus tetap terjaga karena guru tidak hanya menjadi cendekiawan yang terkenal melainkan juga sebagai panutan masyarakat. Perilaku yang baik, sopan, solidaritas yang tinggi juga harus dimiliki oleh seorang guru untuk dapat dicontoh oleh siswa dan masyarakat sekitar.

Sebagai seorang guru harus berperan serta dalam membimbing peserta didiknya. Inilah yang dinamakan kompetensi pedagogik. Guru yang baik harus dapat mengarahkan perilaku peserta didik apabila kurang benar. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi saja di dalam pendidikan terutama di sekolah. Namun guru juga harus mementingkan moral para peserta didiknya. Kalau guru hanya mengedepankan prestasi dan pemahaman materi saja kepada siswa tidak akan menjamin setiap siswa mempunyai kepribadian yang baik. Di sisi lain belajar tidak hanya untuk pandai menuntut ilmu yang harus dikuasai oleh siswa, tetapi belajar juga mendalami cara bermoral yang baik.

Hal yang dapat dilakukan guru dalam membimbing siswanya, dapat dilakukan dari kegiatan yang mudah dan sepele. Ketika siswa dihadapakan dalam sebuah ujian atau mengerjakan suatu soal evaluasi, disini peran guru adalah mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan soal. Tidak diharapkan sebagai seorang guru hanya menerima jadi nilai yang dihasilkan oleh siswa tanpa memperhatikan darimana siswa memperoleh jawaban tersebut. Apakah dari mencontek, tanya temannya atau dari pikiran siswa sendiri. Dalam hal ini guru sangat berperan penting, jika nanti siswa terbiasa dengan kebiasaan buruknya maka akan sulit membentuk kepribadian siswa yang baik.

Apabila siswa memang melakukan kesalahan dibenarkan bagi seorang guru untuk memberikan sanksi atau hukuman pada siswa yang bersangkutan. Asalkan sanksi yang diberikan itu selain membuat siswa jera juga dapat mendidik siswa. Contohnya ketika guru menemukan seorang siswa yang sedang berkelahi dengan temannya. Guru wajib untuk melerai dan menasehati kedua belah pihak yang bersangkutan bahwa berkelahi adalah perbuatan yang tidak baik dan merugikan bagi kerukunan antar teman. Namun guru tidak hanya memberikan nasihat saja melainkan juga memberikan sanksi kepada siswa. Sanksi tersebut dapat berupa misalnya siswa disuruh membersihkan kelas sendiri tanpa dibantu oleh temannya. Nah dari sini siswa akan merasakan bagaimana beratnya membersihkan kelas sendiri tanpa ada teman yang membantu. Dengan demikian siswa akan merasa jera dan akan tertanam moral bagi siswa bahwa kita harus menjaga kerukunan antar teman, insya allah.

Guru ikut serta dalam membentuk ahklak muridSeorang guru mempunyai kompetensi profesional. Dimana guru dapat menyampaikan materi ajar dengan baik dan mampu menguasai materi yang diberikan kepada siswa. Dalam menanamkan moral pada siswa guru dapat memberikan pendidikan karakter terkait dengan materi yang akan diberikan. Sekarang sudah disepakati bahwa setiap mata pelajaran harus terdapat pendidikan karakter. Tujuannya agar siswa mampu mengambil hikmah atau nilai setelah mendapatkan pelajaran dari guru. Selain itu siswa juga dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap mata pelajaran di kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter tersebut dapat membantu siswa dalam membetuk kepribadian yang baik. Dimana siswa harus mendapatkan karakter yang baik dari setiap mata pelajaran. Antara lain, kedisiplinan, kejujuran, toleransi, ketaqwaan, tanggung jawab, dll. Disini siswa akan terbiasa untuk memahami nilai-nilai di setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

Peran guru selain memberikan materi yang di dalamnya terdapat pendidikan karakter juga memberikan contoh kepada siswa. Terutama siswa yang masih berada di kelas rendah. Tentunya siswa belum memainkan akal fikirannya secara abstrak. Mereka masih berfikir secara konkrit dan membutuhkan contoh yang nyata. Nah disinilah guru berperan untuk memberikan contoh yang baik kepada siswa. Bagaimana berperilaku disiplin, jujur, penuh tanggung jawab, dll. Siswa pada kelas rendah cenderung akan menirukan apa yang dilakukan oleh gurunya. Oleh karena itu jangan menjadi seorang guru yang tidak disiplin alias telatan. Karena akan selalu ditiru oleh siswa.

Berbeda dengan siswa di kelas tinggi sedikit demi sedikit mereka sudah dapat merenungi sesuatu yang abstrak. Akan tetapi sebagai seorang guru harus senantiasa memberikan nasihat dan pesan moral dalam setiap akhir proses pembelajaran. Diharapkan dengan tindakan guru yang sedemikian rupa dapat memberikan siswa pencerahan untuk berperilaku baik, amin.

Kompetensi yang juga tidak kalah pentingya harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi sosial. Sebagai seorang guru harus pandai berkomunikasi dan bersosialisasi dengan siswa, teman sejawat, kepala sekolah, dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Peran guru disini adalah mensosialisasikan kepada siswa terutama untuk mengenalkan perbuatan yang baik-baik dan perlu dicontoh. Tanpa berkomunikasi guru tidak dapat menyampaikan segala aspirasinya yang ada dalam benak guru yang bersangkutan.

Banyak hal yang dapat dilakukan seorang guru dalam pendidikan dan pembetukan moral anak didiknya, juga diri guru sendiri yang masih banyak berbenah dan berbenah diri untuk menjadi panutan yang lebih baik lagi. Semoga bermanfaat bagi anda yang membacanya, amin.

SEKIAN

 

 

Syarat Penyusunan Buku Guru

BUKU GURU

A.    Pengertian Buku Guru
Buku ajar merupakan salah satu sarana keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar. Buku ajar merupakan satu kesatuan unit pembelajaran yang berisi informasi, pembahasan serta evaluasi. Bahan ajar yang tersusun secara sistematis akan mempermudah peserta didik dalam mempelajari materi sehingga mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Maka dari itu, bahan ajar harus disusun secara sistematis, menarik, aspek keterbacaannya tinggi, mudah dicerna, dan mematuhi aturan penulisan yang berlaku.
Buku guru adalah buku yang digunakan oleh guru sebagai sumber acuan dalam pelaksanaan proses pembelajaran bagi siswanya.( I NP Suwindra, Penyusunan Buku Ajar oleh Guru)

B.       Syarat Buku Guru
Syarat buku guru adalah sebagai berikut:
Ø Buku guru seharusnya terdapat pendekatan dan teknik dalam mengajar.
Ø Materi dalam buku guru seharusnya lebih terperinci dan ada pendalaman materi dari buku siswa.
Ø Ada keterngan-keterngan yang dilakukan guru dalam mengajar.
Ø Buku guru sebaiknya dikembangkan sendiri oleh guru.

C.      Manfaat Buku Guru
Pengajar memiliki kebebasan dalam memilih, mengembangkan, dan menyajikan materi. Semua itu merupakan wewenang dan kewajiban profesionalnya. Buku guru yang baik juga memberikan sejumlah alternatif materi yang dapat digabungkan dengan materi dari sejumlah sumber lainnya. Cara penyajian dalam sebuah buku guru dapat dijadikan contoh untuk menyajikan bahan dalam kegiatan pembelajaran siswa.

D.      Proses Penyusunan Buku Guru
Proses penyusunan buku guru akan melalui beberapa tahap sebagai berikut:
a)      Telaah kurikulum,
b)      Penyusunan silabus,
c)      Pengorganisasian buku,
d)     Pemilihan materi,
e)      Penyajian materi, dan
f)       Penggunaan bahasa dan keterbacaan

Pemilihan materi yang akan dibahas pada setiap bab buku guru perlu disesuaikan dengan ukuran-ukuran standar berikut ini:
a)      Pemilihan materi standar sesuai dengan kurikulum
b)      Pemilihan materi ditinjau dari segi tujuan pendidikan
c)      Pemilihan materi ditinjau dari segi keilmuan
d)     Pemilihan materi dilihat relevansinya dengan perkembangan ilmu dan teknologi

Media Bahasa Indonesia Ranah Membaca


Analisis Penggunaan Media Pembelajaran Pada Ranah Membaca Kelas IV Semester I

1.  SK: 3. Memahami teks agak panjang (150-200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata dalam kamus/ensiklopedi.

2.      KD: 3.2 Melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk pemakaian yang dibaca.

3.   Syarat  media menurut Sumadi (2001:35–36) mengatakan prinsip untuk menentukan media dalam bahasa adalah sebagai berikut:

a.    Fungsional, artinya cocok dengan tujuan pembelajaran yang dilakukan dan benar-benar menunjang ketercapaian tersebut.
b.     Tersedia, artinya media yang akan digunakan ada, sudah disiapkan, dan tidak sulit untuk di dapatkan.
c.   Murah, artinya media yang digunakan tidak harus mahal tetapi terjangkau dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
d.  Menarik, artinya media yang digunakan adalah media menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
e.   Mudah diikuti siswa, cerita atau bacaaan yang disajikan berupa bacaan yang mudah diterima anak SD, baik dalam bahasa, penulisan ataupun pemahamannya.
f.    Konstektual ( dikenal oleh anak) , bahan bacaan yang diberikan hendaknya bacaannya tidak dianggap asing atau tabu oleh anak SD.

4.    Broghton (et.al) 1978:211 dalam Tarigan 1978:12 – 13 menyebutkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan pembelajaran membaca yaitu:
a.       Sesuai dengan atau dapat menunujang tercapainya tujuan pembelajaran.
b.      Sesuai dengan tingkat pendidikan dan perkembangan siswa pada umumnya.
c.       Terorganisasi secara sistematik dan berkesinambungan.
d.      Mencakup hal-hal yang bersifat faktual maupun konseptual.

5.  Bentuk Media yang digunakan yaitu  media visual: media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara.
Contoh : Bungkus Mie Instan, bungkus obat.

6.     Contoh Pembelajaran
Pada kelas IV semester I terdapat KD mengenai melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk yang telah  dibaca, dalam pembelajarannya guru dapat  menggunakan media dari berbagai barang bekas, misalnya bungkus mie, bungkus obat, dan lain-lain yang dimanfaatkan untuk kegiatan membaca dan menemukan informasi penting dari berbagai barang bekas tersebut. Pada pembelajaran ini guru menggunakan teknik membaca scanning.